Pages

Struktur HIMA

Struktur HIMA PLB 2010

DPO
1. Oktavian Nugroho
2. Ade Putri Sarwendah
3. Rendy Roos Handoyo


Ketua HIMA : Siti Novita Ningrum
SekJend : Priyo Ardianto
Bendahara : Arthanti Yan P
Sekretaris : Nora Tri S


Bidang Pengembangan Keilmuan
Ka. Bidang : Danang Wijayanto
Anggota
1. Tri Rahayu
2. Nurullita Arum P
3. Utri Heryani
4. Nurlita
5. Nina
6. Isnaini


Bidang Kreasi
Ka. Bidang : Waskito Rian W
Anggota
1. Mahdi Anshari
2. Esthi Wahyu K
3. Ramdhan H
4. Yoseph Pungki C
5. Ukhti Amri H
6. Oktariana
7. Dini
8. Taufik
9. Nanda Rizqi Palupi


Bidang PSDM
Ka. Bidang : Apriyani
Anggota
1. Yudha Setiawan
2. Dyah Retno W
3. Ika Oktariningsih
4. Cahyo
5. Eka
6. Fajri
7. Ratna


Bidang Pengembangan dan Jaringan
Ka. Bidang :None Fariza Melda
Anggota
1. Ilcham Dwi Agus K
2. Husein
3. Imam
4. Nanin
5. Nawang
6. Fransisca Octi
7. Nur

REVIEW DISKUSI HIMA PLB

23/03/2010

Tema diskusi : Down Syndrome

Sprti yg sdh qt kthui bhwa adanya kelainan genetik yakni tdk sempurnanya pembelahan kromosom21 pd saat kehamilan akn menyebabkn anak yang d lahirkn mengalami Down Syndrome. Sore ini, diskusi PLB yang di adakan di Garasi Ormawa dari pukul 16.15 s/d 17.45WIB mengkaji mengenai kelainan DS tersebut. Selain dr kajian teori yg d peroleh dr buku sumber dan kuliah, sbgai sumber lain ialah pengalamn lapangan mhsswa senior angk '06. Walau hanya d ikuti oleh segelintir orang saja (15mhsswa), diskusi sore ini membuahkan bbrpa poin2. Berikut hsl disksi sore ini:
> Penyebab DS
-genetik(kelainan Krmosom21)
-Kurangnya giZi saat kehamilan
uSia iBu saat melahirkan masih terLaLu muda /pun usia iBu yg terLaLu "berumur" saat melahirkan
>Apakah DS selalu menjadi ATG??
Ank yg mglami DS identik gdn TunaGrahita, krna susunan syaraf otak anak yg mglami DS sdh berBeda dgn anak normal. Anak DS sering disamakan/dimasukkan dlm kategori TG (dlm hal ini masuk k SLB C).
>Karakteristik/ciri DS
-kterlambatan prkembangan sejak lahir (ex:dlm hal berjalan, bicara,dll). Stlh dewasaPun kebanyakan anak DS mengalami gangguan pd motorik halus.
-Pertumbuhan gigi anak tdk maksimal(ini yg menyebabkn ank DS sulit untuk mengontrol keluarnya air liur).
-Kurangnya ketrampilan merawat diri yg d sebabkn krna daya intelektualnya(maka cnderung berBau khas, selain krna faktor hormonal)
-Rambut lurus/jegrak(genetik)
>down syndrome vs autis
ank DS mempunyai daya sosialisasi yg baik. semantara ank dgn gangguan Autis cenderung menarik diri(tertutup)
>wajah 1000??
Kromosom21 sbgai pembawa sifat genetik orangtua tdk membelah sempurna shg tjdi keseragaman ciri ank DS d dunia.
>biasanya ank DS mpy penyakit penyerta(ex:pnyakit Jantung)
gangguan pencernaan menyebabkn seringnya ank DS sakit.

Rekomendasi:
-Diskusi diadakan rutin tiap minggu
-Diharap kpda teman2 PLB untuk mengikuti diskusi selanjutnya guna menambah pengetahuan kePLBan bersama.

Selasa, 23/03/2010

ShoutMix chat widget

ShoutMix chat widget

tuna laras

Individu tuna laras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial.

Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tuna laras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

Klasifikasi Anak Tuna Laras

Secara garis besar anak tuna laras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (1975) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial:
    1. The Semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.
    2. Children arrested at a primitive level of socialization, anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.
    3. Children with minimum socialization capacity, anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.
  2. Anak yang mengalami gangguan emosi, terdiri dari:
    1. neurotic behavior, anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif dan perasaan bersalah. Di samping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.
    2. children with psychotic processes, anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras
      dan obat-obatan

    (Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

tuna netra

Tuna netra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya/kecacatannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebaginya sehingga tidak sedikit penyandang tuna netra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

Huruf Braille

Huruf Braille adalah huruf timbul yang khusus digunakan untuk para penyandang tuna netra. Huruf ini terdiri dari kumpulan titik-titik yang disusun sedemikian rupa untuk menggantikan huruf biasa. Penulisannya pun menggunakan mesin ketik khusus Braile. Namun untuk penghitungan, penyandang tuna netra dapat menggunakan sempoa.

(Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)